Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hingga liang lahat. Manusia primitif takut gerhana matahari, memuja langit dan gunung. Manusia zaman modern takut kiamat, virus yang menyebar lewat internet, penyakit-penyakit baru dan seram yang selalu bermunculan. Ada orang yang takut kesepian, ada pula yang justru takut keakraban. Ada yang takut perubahan, ada yang malah takut keabadian. Takut tua, takut sakit, takut mati, takut miskin, takut kehilangan jati diri, takut tikus, takut rampok, takut melanggar aturan, takut Tuhan, takut setan, takut akan bakteri yang memenuhi udara, takut mendengar suara rumput bertumbuh. Ada ketakutan besar, ada ketakutan kecil. Ada ketakutan yang normal, ada yang irasional. Ada takut yang personal, ada yang universal. Ada takut yang real, ada pula yang cuma khayal. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi membeli asuransi, memperkokoh rumah, semua adalah demi sejumput rasa aman. Manusia meninggalkan goresan di gua-gua, menuliskan prasasti, mengoleksi benda-benda, menjepretkan foto, melakukan operasi plastik, sesungguhnya adalah demi mempertahankan secuil keabadian. Sains, ilmu sihir, obat, racun, bom atom, tentara, uang, emas, perjanjian, undang-undang, sistem, pendidikan, budaya, tembok, garis batas, identitas, semua tercipta demi menyumpal rasa takut. Agama-agama pun menawarkan hidup kekal abadi, sebagaimana halnya ketakutan akan kematian dan kemusnahan juga selalu abadi menemani manusia dari berbagai lintasan zaman. Ketakutan yang berbeda, cara menghadapi yang berbeda, membuat manusia pun jadi bermacam-macam. Ada yang pemberani, ada yang pengecut. Ada yang jadi pembunuh, tak sedikit pula yang malah bunuh diri. Ada penemu sukses, ada pasien sikat jiwa. Ada pemimpin besar, ada pecundang.
-Agustinus Wibowo dalam Titik Nol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar