Selasa, 14 Mei 2013

Hanya Karena Senyum (Mu)


Rinduku pilu. Tak tersampaikan.
Seketika hilang memudar tatkala kamu tersenyum kepadaku (saja)
Entah kamu memaknai garis senyummu itu biasa saja.
Atau bahkan lebih dari itu?
Aku. Yang candu kamu. 
Seketika menjadi pemimpi yang tinggi.
Pemimpi yang ingi mimpi-mimpinya segera terjadi.
Senyummu, kuanggap penuh makna.
Cinta, kasih, dan sayang kusatukan dalam arti senyummu itu.
Matamu yang indah seolah berkata sesuatu padaku.
Ah, kurang terdengar…
Ketahuilah, aku sangat bahagia karena itu.
Angan-angan yang melambungkanku ke atas, bak di awan.
Senyummu diam-diam telah kuasai setengah dari pikiranku.
Bagian bibir sebelah kananmu yang cenderung menyenggol ke atas. Aku hafal itu.
Lekuk halismu selalu menjadi pandangan yang dominan.
Hidungmu, tak kulupakan menjadi bagian dari objek penglihatanku.
Semua hanya karena satu.
Senyum (kebetulan) kamu.
-Mayang Riyanti. December, 25th 2012. 00:34.

Hujan.


Rentetan titik air yang semakin lama semakin tak bisa diajak kompromi.
Aku larut dalam hujan ini seketika.
Beribu kenangan teringat sejenak dalam satu waktu.
Seolah mesin ini membawaku kembali ke alamnya.
Alam sebelum masa sekarang.
Aku tetap diam dibalik hujan.
Mencoba menikmati setiap titiknya.
Seolah hujan mengajakku untuk saling mengenal.
Aku damai, sejuk ku rasa.
Kamu, salah satu pendamai jiwaku saat itu.
Saat hujan turun dengan derasnya.
Ingin kuucapka padamu kala itu.
Bahwa rasa ini ada untukmu-pun melebihi titik air yang turun ke bumi.
Terlalu banyak…
-Mayang Riyanti. December, 25th 2012. 23:36.

Hujan.


Rentetan titik air yang semakin lama semakin tak bisa diajak kompromi.
Aku larut dalam hujan ini seketika.
Beribu kenangan teringat sejenak dalam satu waktu.
Seolah mesin ini membawaku kembali ke alamnya.
Alam sebelum masa sekarang.
Aku tetap diam dibalik hujan.
Mencoba menikmati setiap titiknya.
Seolah hujan mengajakku untuk saling mengenal.
Aku damai, sejuk ku rasa.
Kamu, salah satu pendamai jiwaku saat itu.
Saat hujan turun dengan derasnya.
Ingin kuucapka padamu kala itu.
Bahwa rasa ini ada untukmu-pun melebihi titik air yang turun ke bumi.
Terlalu banyak…
-Mayang Riyanti. December, 25th 2012. 23:36.

If I Could See You ( Now )


Jika hari ini, detik ini. Bahkan ketika sedang menulis kata ini.
Saya diberi kesempatan untuk melihatnya.
Entah bagaimana caranya.
Nyata ataupun tidak.
Bertatap secara langsung maupun berkhayal (lagi) semauku.
Aku ingin mengatakan padanya.
Bahwa aku lelah menahan ego.
Ego untuk tetap menunggunya sampai sejauh ini.
Aku ingin katakan padanya.
Aku tidak berharap banyak sebanyak orang-orang yang mengharapkan adanya musim semi di negeri ini.
Karena aku lelah, karenamu :)
Mayang Riyanti. December 26th 2012. 16:23.

Dengung.


Dengung, mengganggu.
Kepala, rubuh.
Berputar, searah jarum jam.
Bisa juga berlawanan.
Cepat…lambat…sangat cepat….atau lambat sekali.
Ciptakan nada abstrak.
Sulit dipadukan dengan lirik.
Semakin lama, semakin keras.
Semakin merasuki bagian kecil tubuh ini.
Terciptalah satu buah nada.
Yang sama, namun berkelanjutan.
Mayang Riyanti, December 30th 2012.

Diam.


Membeku, layaknya seseorang didera dinginnya salju.
Membisu, tanpa kata.
Tanpa suara. Bunyi hilang seketika.
Hembusan nafas terasa terlalu besar.
Lemah mengira, tapi tidak.
Menggapai klimaks keberhasilan.
Untuk tetap sunyi.
Sepanjang yang aku mau.
-Mayang Riyanti, 2nd of January 2013. 15:45.

Unspoken.


Nada, ritme, hipnotis.
Piano, klasik, buyar.
Tentang kita.
Ada kita di dalam itu.
Dalam denting piano.
Dalam alunan nada.
Kenangan, masa kini.
Tidak untuk masa depan.
Ada kita di dalam itu.
Dalam ritme piano.
Dalam lagu klasik.
Yang sedang dimainkan.
Dalam setiap not yang tercipta.
Dalam lambat launnya irama,
Ada cerita kita disana.
Cerita dulu, saat kita menjadi kita.
Kita adalah komitmen.
Kita adalah janji.
Kita, tidak aku, tidak kamu.
Kita, hal kecil. Saling mengetahui.
Kita, menghilang.
Kini, aku tanpa pelengkap “kita”
Nada, habis, sunyi.
Aku kembali pada masa ini.
-Mayang Riyanti. January 2nd 2013. 16:03.

Kertas Usang.


Siapa yang biarkan.
Tumpukan itu berdebu.
Apa itu, dalam toples mungil.
Ada berpuluh-puluh gulungan di dalamnya.
Penuh kotoran.
Sesak, susah sekali bernafas.
Terlihat bak ditelan jaman.
Aku tiup debunya, fiuh.
Perlahan tapi pasti.
Kubuka gulungan kertasnya.
Ah, kenangan masa kecilku.
Bersamanya.
Banyak tulisan di dalamnya.
Ada harapan.
Ada mimpi.
Ada canda.
Ada tawa.
Ada masa. Masa kita.
Dulu, sebelum kita berbeda alam.
Linangan terjatuh, sedikit demi sedikit.
Kuusap cepat-cepat.
Biarkan dia abadi.
Di alamnya, di hati ini.
Selamanya.
-Mayang Riyanti, 3d of January 2013. 22:04.

Kemeja Putih.


Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama?
Kalau saya sih, iya.
Saya melihat untuk pertama kalinya di tepi Pantai Sarwana.
Terlalu ahmak bagi saya untuk mengatakan bahwa saya sungguh mencintainya.
Terlebih lagi pada seseorang yang baru saja saya lihat.
Kenal saja, belum.
Ya, pria itu.
Pria berbalut kemeja putih.
Amat menarik alih pandangan kedua bola mata saya.
Sorotan matanya begitu jelas masuk di sebelah kiri hati saya. Ah, bahkan seluruh bagian lebih tepatnya.
Rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Membuat pria itu berlari-lari kecil.
Masuk ke dalam sebuah hutan.
Kulihat sepintas teramat gelap.
Semakin lama, jejaknya menghilang.
Ingin ku berteriak saat itu.
Tolong jangan tinggalkan saya disini.
Saya mencintaimu.
Wahai cinta pandangan pertama-ku.
-Mayang Riyanti, 4th of January 2013.

Ketakutan.

Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hingga liang lahat. Manusia primitif takut gerhana matahari, memuja langit dan gunung. Manusia zaman modern takut kiamat, virus yang menyebar lewat internet, penyakit-penyakit baru dan seram yang selalu bermunculan. Ada orang yang takut kesepian, ada pula yang justru takut keakraban. Ada yang takut perubahan, ada yang malah takut keabadian. Takut tua, takut sakit, takut mati, takut miskin, takut kehilangan jati diri, takut tikus, takut rampok, takut melanggar aturan, takut Tuhan, takut setan, takut akan bakteri yang memenuhi udara, takut mendengar suara rumput bertumbuh. Ada ketakutan besar, ada ketakutan kecil. Ada ketakutan yang normal, ada yang irasional. Ada takut yang personal, ada yang universal. Ada takut yang real, ada pula yang cuma khayal. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi membeli asuransi, memperkokoh rumah, semua adalah demi sejumput rasa aman. Manusia meninggalkan goresan di gua-gua, menuliskan prasasti, mengoleksi benda-benda, menjepretkan foto, melakukan operasi plastik, sesungguhnya adalah demi mempertahankan secuil keabadian. Sains, ilmu sihir, obat, racun, bom atom, tentara, uang, emas, perjanjian, undang-undang, sistem, pendidikan, budaya, tembok, garis batas, identitas, semua tercipta demi menyumpal rasa takut. Agama-agama pun menawarkan hidup kekal abadi, sebagaimana halnya ketakutan akan kematian dan kemusnahan juga selalu abadi menemani manusia dari berbagai lintasan zaman. Ketakutan yang berbeda, cara menghadapi yang berbeda, membuat manusia pun jadi bermacam-macam. Ada yang pemberani, ada yang pengecut. Ada yang jadi pembunuh, tak sedikit pula yang malah bunuh diri. Ada penemu sukses, ada pasien sikat jiwa. Ada pemimpin besar, ada pecundang.

-Agustinus Wibowo dalam Titik Nol

About my mind.


Ketika aku diberi kesempatan untuk berbicara denganmu, aku mendapati beberapa kesan luar biasa yang sukar sekali untuk dilupakan.
Aku terus berpikir bagaimana kamu berbicara kepadaku, dan aku sangat menyukai bagaimana cara kamu mengeluarkan kata-kata.
Aku terus berpikir bagaimana cara kamu tertawa, bagaimana cara kamu tersenyum, bagaimana cara kamu menujukan keseriusan. Melebarkan kedua bola matamu adalah bagian yang paling aku suka.
Aku terus berpikir bagaimana kita berbicara. Mengulang potongan percakapan yang kita lakukan. Pagi tadi, siang tadi, hari kemarin, atau…..
Aku hafal potongan wajahmu, cara kamu memandang wajahku, raut wajahmu ketika mendapati diriku sedang tersenyum melihat keseriusanmu. 
Ketika aku memikirkan semua itu, aku malah tersenyum membayangkan semuanya. Senyum-senyum kecil yang mampu membalikan keadaan. 
Aku ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Meskipun tak akan pasti. Tapi aku akan sangat menghargai setiap momen yang aku miliki denganmu.
December,2th 2012-Mayang Riyanti

From me, for you.


Mungkin saya tidak begitu sempurna, bahkan jauh dari kata sempurna itu. Saya mungkin tidak memiliki mata yang indah, senyum yang rupawan. Dengan dicintaimu, kau bahkan tidak pernah memintaku untuk menjadi orang lain. Sedikitpun kau tidak pernah mengubah saya. Kamu berpikir, saya indah. Kamu membuat saya merasa seperti satu-satunya wanita di dunia ini.
Dulu, ketika saya pertama kali melihatmu. Sulit sekali rasanya untuk mengambil nafas. Ketika pertama kali kamu berbicara padaku, saya tak bisa berpikir. Ketika kau memberika pertanyaan, saya tak bisa menjawab. Ketika kamu menyentuh saya, tubuh saya mengigil. Bergulir waktu kamu membuat saya terus melayang menerawangi dalam mimpi saya. Ajaib sekali. Saya tidak pernah membiarkan kamu pergi, karena saya takut sekali kehilangan. Kamu tidak akan pernah tahu, kehangatan seperti apa yang saya rasakan di dalam diri saya, ketika saya bersamamu.
Ini dariku, untukmu. 
November,20th 2012-Mayang Riyanti

Unspoken.


Aku rindu caramu membuat saya tersenyum saat saya patah.
Aku rindu caramu membuat saya merasa seakan-akan saya menjadi wanita ter…..dimatamu.
Aku rindu caramu menatapku.
Aku rindu caramu memegang erat kedua tanganku.
Aku tahu kita tidak banyak bicara, dan kadang-kadang kita bahkan berjalan melewati satu sama lain tanpa berkata satu kata pun. Tapi kemudian ada saat-saat ketika mata kami bertemu, saling memandang dan aku tahu jauh di lubuk hati, Anda kehilangan saya sama seperti saya kehilangan Anda.
“..Where are you and I’m so sorry
I cannot sleep I cannot dream tonight
I need somebody and always
This sick strange darkness
Comes creeping on so haunting every time
And as I stared I counted
The Webs from all the spiders
Catching things and eating their insides
Like indecision to call you
and hear your voice of treason
Will you come home and stop the pain tonight
Stop this pain tonight..”
Blink 182-I Miss You
November,18th 2012-Mayang Riyanti

Can i call it, love?


Bolehkah aku mengatakan ini cinta? Jujur, sulit sekali untuk mengatakan bahwa aku sedang merasakan hal itu. Sepertinya aku tahu semua tentang dirinya, berbicara setiap hari dengannya, bergurau tentang apa saja yang menurut kita menyenangkan. Lucu memang. Tapi, aku tidak akan pernah bisa memiliki dia.
Dari saat ia mulai berjalan perlahan memasuki hidupku, menyentuh sedikit ruang-ruang kecil di hati ini. Aku tidak pernah ingin dia pergi. Disaat aku berbicara dengannya, jantungku berdetak begitu cepat, dan aku tahu jika kamu adalah apa yang aku butuhkan. Dari saat aku diizinkan untuk bisa menjalani hari indahku bersamamu, aku tahu akhirnya aku memiliki kesempatan akan hal ini. Aku pun lupa bila hidup tanpamu, dan aku tidak pernah mau terjadi seperti itu. Sungguh menyakitkan mengagumimu begitu banyak. Aku takut untuk memberitahumu.
“..I won’t run, I won’t fly
I will never make it by
Without you, without you
I can’t rest, I can’t fight
All I need is you and I
Without you..”
Without You-David Guetta ft Usher
November,18th 2012-Mayang Riyanti

Imagination.


Sebenarnya saya tidak ingin mengirim pesan padamu, atau hanya sekedar menghubungimu dengan menanyakan apa yang tidak penting untuk ditanyakan. Tapi apa daya, saya harus lakukan itu. Sudahlah, tak usah dibahas hehehe.
Hanya sekedar berangan-angan menjadi yang ada di pelukanmu saja, itu sudah membuatku tenang.
Hanya sekedar berangan-angan menjadi seseorang yang merasakan nafasmu saja, itu sudah membuatku tenang.
Hanya sekedar berangan-angan menjadi seseorang yang bisa mendengarkan apa saja yang ada di hatimu, itu sudah membuatku sangat tenang.
Dan hanya berangan-angan menjadi seseorang yang bisa terus bersamamu, itu sudah sangat membuatku tenang. Sangat tenang.

November,18th 2012-Mayang Riyanti